Bis UKI-Bogor dan hari ini

| May 27, 2009

Sejak November 2008 lalu, setelah memutuskan untuk ga ngekos lagi di Bogor dan kembali ke nyamannya pondok orang tua indah, otomatis menjadikan saya pelanggan setia bus UKI-Bogor pp. Saya akui, bis jenis AKAP (Antar Kota Antar Propinsi) itu benar-benar memudahkan saya dan jadi salah satu angkutan umum yang menurut saya paling bisa diandalkan. Bayangkan saja, jam berapapun saya berangkat ke Bogor, bis jurusan Terminal Baranangsiang pasti tersedia di seberang Universitas Kristen Indonesia (tepatnya di jalan kecil depan gereja). Sore/malam harinya, saya tinggal ke Terminal Baranangsiang lalu naik bis jurusan Bekasi, Tanjung Priok atau Purwakarta. Pasti lewat UKI.

Hari ini, satu hal yang jadi kekhawatiran saya sejak awal 2009 terjadi. Bis-bis jurusan AKAP, ke manapun tujuannya, tidak boleh lagi melewati UKI. Yang saya baca di berita online (di sini dan beberapa berita yang saling berkaitan di sini), polisi maupun petugas Dishub pasti menindak setiap bis yang lewat Cawang-UKI. Bahkan sudah ada 11 bis AKAP yang dikandangin.

Awalnya saya pikir kejadian ini bakalan sama seperti peristiwa bulan-bulan lalu. Ini bukan pertama kalinya bis-bis AKAP dilarang lewat UKI. Sekitar bulan Februari, misalnya, saya dikagetkan dengan sistem naik-turun penumpang yang ga banget di UKI. Pasalnya karena ada ancaman tilang jika ngetem, supir bis cuma bisa mengurangi kecepatannya jadi sekitar 10 km/jam, lalu mulailah proses menurunkan dan menaikkan puluhan penumpang dengan cara seksama (sang kondektur kerap menolong ibu-ibu, nenek-nenek atau -kalau tu kondektur lagi beruntung- mbak-mbak berok mini yang pake high-heels agar bisa turun/naik bis dengan aman), dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya (saya pernah iseng menghitung, dari mulai bis membuka pintu kemudian menurunkan penumpang, disusul dengan peristiwa desak-desakan penumpang yang mau turun dengan yang naik, hingga penumpang terakhir berhasil dinaikkan ke dalam bis -sambil terengah-engah dan kadang mencubit dirinya sendiri, memastikan bahwa ia masih hidup-, total waktunya rata-rata 40 detik!). Tiga pekan berselang, peristiwa kejar-mengejar bis ga terjadi lagi.

Pertengahan Maret, lain lagi ceritanya. Polantas dan Dishub seakan-akan memberi fasilitas dan kesempatan pada bis-bis AKAP untuk ngetem. Ini tentunya menguntungkan saya karena begitu sampe UKI, saya dengan nyamannya bisa menemukan bis ber-AC jurusan Bogor lalu naik dengan aman, ga perlu desak-desakan lagi. Bahkan, bisa pilih tempat duduk yang ga terkena silau matahari pagi dan dekat dengan mas-mas ganteng nan tampak terpelajar (ehehehe... ).

Nah.. peristiwa hari ini, sama seperti bulan-bulan sebelumnya, saya ga yakin bahwa larangan semua bis AKAP lewat UKI akan bertahan lama. Tapi setelah melihat beberapa mobil derek berbaris di Cawang dan buanyak buangett personel Polantas dan Dishub yang diturunkan, ditambah dengan adanya demo beberapa pemberitaan serius dari koran-koran terkemuka (barusan saya menemukan berita ini), kayaknya kali ini bener-bener serius deh..

Dari berita-berita yang saya baca itu, pelarangan ini memang bertujuan mengurangi kemacetan di daerah UKI-Cawang yang jadi salah satu perempatan terpadat di Jakarta. Ya memang strategis bener sih ya, wilayah itu. Jujur, saya akui pagi ini di wilayah itu lebih lengang dan jadinya lebih nyaman untuk dilalui.

Harus saya akui juga, upaya pemerintah Jakarta untuk ngurangin macet memang kudu ditanggapi serius. Saya sih ga keberatan kalau demi ketertiban dan kenyamanan bersama, harus sedikit berkorban menempuh jarak yang agak jauh untuk naik bis ke Bogor. Tapi.. melihat sarana yang disediakan pemerintah Indonesia, agak-agak dilematis juga.. Bis Transjakarta dari UKI ke Kampung Rambutan memang sudah disediakan dan sudah beroperasi tapi sayangnya si Busway blom steril, jadi sama ajah macet-macetan juga.

Agaknya nanti sore kudu pulang naik KRL. Besok berangkat pagian, liat kondisi UKI, lalu kalo memang ga ada bis ke Bogor ya jalan-jalan dulu ke Kampung Rambutan naik Transjakarta. Jadi kayak petualang gini yah, nasib commuter di Jakarta...

Are You Going to Finish Strong?

| May 13, 2009

After waiting for a week, I received the result of my scholarship application. At this moment, the selection process is actually still going on, so the word 'result' written in my e-mail on last Thursday should be a not-so-good news. Indeed, it was a bad news. I didn't get it. I didn't get the scholarship.

Sad? No. More than that. I was devastated! I cried for three days. No matter how hard I tried to stop, the tears kept running. Three exhausting days... The Indonesian slang word, 'lebay' (means overreacted, hyperbolic) suits my condition very well. Three consecutive days, grieving for an unsuccessful scholarship application...

Today, I found a very inspirational posting from my friend in mailing list, which, made me cry again. But in a different situation now. You should see this:



Thanks Nick, thanks Agung, thank YOU ALLAH. Yes. I am going to finish strong :)

Someday we'll know

| May 1, 2009

Who knows how a love story will turn out to be romantic and sweet ever after or... the opposite of that, tragic and bitter? Whatever it is, I believe that life and love are not black and white as there are infinite numbers of color in between.

My story? Someday we all will know... :) I've customized the lyrics below to suit my story. And yes, I took much lessons these two years, knowing and -yea.. can't deny this..- loving him.


Someday Well Know - MYMP

Someday we'll know

Ninety miles outside Chicago
Can't stop driving
I don't know why
So many questions
I need an answer
Two years and later
You're still on my mind

Whatever happened to Amelia Earhart?
Who holds the stars up in the sky?
Is true love just once in a lifetime?
Did the captain of the Titanic cry?
Ohhh.....

Someday we'll know
If love can move a mountain
Someday we'll know
Why the sky is blue
Someday we'll know
Why I wasn't meant for you

Does anybody know the way to Atlantis?
Or what the wind says when she cries?
I'm speeding by the place that I met you
For the ninety-seventh time tonight

Someday we'll know
If love can move a mountain
Someday we'll know
Why the sky is blue
Someday we'll know
Why I wasn't meant for you

Yeah, yeah, yeah, yeah

Someday we'll know
Why Samson loved Delilah
One day I'll go
Dancing on the moon
Someday you'll know
That I'm not the one for you

I bought a ticket to the end of the rainbow
Watched the stars crash in the sea
If I could ask God just one question (one question...question)
Why aren't you here with me tonight?

Someday we'll know
If love can move a mountain
Someday we'll know
Why the sky is blue
Someday we'll know
Why I wasn't meant for you

Yeah, yeah, yeah, yeah

Someday we'll know
Why Samson loved Delilah
One day I'll go
Dancing on the moon
Someday you'll know
That I'm not the one for you

Perempuan: berdaya, berkarya

| Apr 21, 2009

Pagi kemarin jalan sepanjang Kali Malang lebih macet dari biasanya. Senyumku mengembang tatkala melihat biang kemacetannya ternyata barisan anak-anak seusia SD berpakaian adat. Ah ya.. hari ini peringatan hari lahir Kartini. Geli juga melihat anak-anak itu berjalan riang, berias pakaian warna-warni, bersanggul lengkap dengan kembang goyang. Mereka patut berbangga jadi salah satu bagian perayaan pembebasan makhluk Tuhan bernama Perempuan Indonesia.

Seketika pikiranku melayang menyapa Mama Rambu di Sumba Timur dan Mama Yane di Solor, Flores Timur. Saya bertemu dan berkenalan dengan dua sosok luar biasa itu di Kupang saat membantu Lokakarya Pemberdayaan dan Kesetaraan Gender, permintaan dari Oxfam Australia agar tiap program pemberdayaan masyarakat di NTT mengandung pengarusutamaan gender.

Mama Rambu adalah sosok sederhana seorang petani yang tinggal di Desa Kambata Bundung, Kabupaten Sumba Timur. Perawakannya kecil, dengan kulit gelap dan rambut ikal khas orang Timor. Siapa sangka, sosok pendiam yang murah senyum ini ternyata tokoh adat yang disegani oleh masyarakatnya. Ia ketua kelompok usaha simpan pinjam dan juga ketua kader posyandu di desanya. Ia sangat prihatin dengan kondisi kesejahteraan dan kesehatan tetangga-tetangganya, terutama mereka yang punya anak balita. Karena itu, ia berdayakan seluruh ibu-ibu di kampungnya untuk menanam 20 pohon pisang dan 20 pohon kayu di halaman rumah masing-masing. Ia punya mimpi yang istimewa: laki-laki dan perempuan melangkah bersama untuk masa depan.

Mama Yane, seorang kepala keluarga bagi 4 orang putra dan putrinya. Sudah 3 tahun suaminya merantau ke Samarinda, berkabar hanya lewat telpon genggam setiap bulan. Usianya telah mendekati 50, tapi perawakannya sangat gesit dan ceria, meski terkadang malu-malu saat bicara depan forum. Di Flores Timur, terutama di Solor, 60 % keluarga dikepalai oleh perempuan. Seperti suami Mama Yane, sebagian besar para suami merantau untuk mencari nafkah. Pun demikian, kebutuhan keluarga bukan berarti tercukupi dari uang kiriman para suami mereka. Mama Yane dan perempuan kepala keluarga yang lain membentuk kelompok usaha, bergotong royong membantu satu sama lain menuju kehidupan sejahtera. Baru setahun kelompok mereka berjalan, namun uang yang berputar dari simpanan pokok Rp. 50.000 per tahun dan simpanan wajib Rp. 5.000 per bulan sudah mencapai 7 juta.

Ini baru potret dua orang mama. Masih ada 20 cerita mama yang lain di acara tersebut. Masih ada jutaan cerita mama yang lain di negeri ini. Mereka yang berdaya, berkarya untuk keluarga, masyarakat dan bangsa.

Senyumku tak lepas mengembang sedari pagi. Terbawa keriangan seorang anak berhias kembang goyang.

Selamat Hari Kartini, perempuan Indonesia :)

A simple question, yet still can't figure out its answer

| Mar 30, 2009

Am now thinking, imagining and intuiting the answer of:

"What is your task in life?"

Pfiuhhh..

cukup genggam taliku

| Mar 18, 2009

aku adalah layang-layang
tempatku di mana angin bertiup
aku akan gembira menari-nari
meliuk-liuk di mega terbentang

kau dapat kendalikanku
ajak aku ke kanan dan ke kiri
tinggi membumbung
atau menukik ke bawah

jika angin lunglai menghembusku
ku kan terjun tanpa arah

kupinta kau, genggam taliku

jangan lepaskan
karna ku kan mengambang
tak jelas ke mana

jangan pula paksakan
kau bisa buatku koyak berontak
atau bahkan... putuskan taliku

cukup, genggam taliku
biarkan aku menggenggam awan
sekaligus rasakan aman
bahwa kau kan menjagaku tetap terbang

How do you measure a year?

| Mar 17, 2009

Love this song ever since I've heard it the first time! I haven't heard it again for quite a while, and then the TDS reminded me again on previous Vibrant Communication Training.

It is love that makes life worth living. Celebrate it!



Seasons of Love - RENT

Five hundrend twenty five thousand six hundred minutes
Five hundrend twenty five thousand moments so dear
Five hundrend twenty five thousand six hundred minutes
How do you measure, measure a year?

In daylight, in sunsets, in midnights,
in cups of coffee, In inches, in miles
in laughter in strife,

In Five hundrend twenty five thousand six hundred minutes
How do you measure a year in the life?

How about Love
how about love
how about love
measure in love
seasons of love
seasons of love

Five hundrend twenty five thousand six hundred minutes
Five hundrend twenty five thousand journeys to plan
Five hundrend twenty five thousand six hundred minutes
how do you measure the life of a woman or a man?

In truth that she learned
or in times that he cried
In the bridges he burned
or the way that she died

Its time now to sing out
though the story never ends
lets celebrate remember a year
in the life of friends!